Kasus kopilot Malaysia Airlines Mohd Saufi bin Othman yang membawa narkoba ke RI memasuki babak baru setelah polisi Malaysia mengungkap dugaan sosok pemasok ekstasi.
Penyidik Malaysia menduga pemasok tersebut merupakan salah satu staf yang bekerja di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Sosok itu diduga memiliki akses terhadap area pemeriksaan keamanan bandara.
KEPPO INDONESIA akan mengulas perkembangan kasus pilot Malaysia yang membawa narkoba ke Indonesia serta dugaan jaringan pemasok di balik aksi tersebut.
Polisi Malaysia Telusuri Jejak Pemasok Narkoba
Direktur Departemen Investigasi Kriminal Narkotika (NCID) Bukit Aman, Datuk Hussein Omar Khan, mengatakan pihaknya sudah mengidentifikasi seseorang yang diduga menjadi pemasok narkoba dalam kasus tersebut.
Menurut Hussein, sosok tersebut bekerja sebagai staf yang memiliki hubungan dengan proses pemeriksaan keamanan di KLIA. Polisi Malaysia berencana memanggil orang tersebut untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Individu tersebut termasuk staf yang terlibat dalam pemeriksaan keamanan di KLIA. Kami akan memanggilnya untuk pemeriksaan dan, jika perlu, melakukan penangkapan,” ujar Hussein seperti dikutip dari Bernama, Rabu (5/8/2026).
Penyidik kini mendalami kemungkinan adanya celah keamanan yang dimanfaatkan untuk membawa narkoba hingga masuk ke dalam penerbangan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Narkoba Diduga Berasal dari Apartemen di Ampang
Hasil penyelidikan awal polisi Malaysia menemukan bahwa tersangka utama mendapatkan narkoba tersebut dari sebuah apartemen di kawasan Ampang.
Polisi masih menggali informasi terkait bagaimana proses pengiriman barang terlarang tersebut hingga bisa masuk ke area bandara.
Hussein menjelaskan bahwa penyidik juga fokus memeriksa prosedur keamanan di pintu masuk bandara. Langkah tersebut bertujuan mencari kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam jaringan penyelundupan.
Kasus ini tidak hanya menyoroti tindakan individu pelaku, tetapi juga mempertanyakan bagaimana narkoba dalam jumlah besar bisa melewati sistem keamanan bandara internasional.
Baca Juga:Â Rumah Don Ritto Digeledah Tim 9 Kejagung, Ada Apa di Balik Kasus TPPU Febrie?
Modus Bagasi Jadi Jalur Membawa Narkoba ke Jakarta
Berdasarkan hasil pemeriksaan, kopilot tersebut sempat datang ke KLIA sebelum penerbangan. Ia melakukan proses check-in untuk sebuah bagasi yang diduga berisi narkoba.
Setelah itu, ia meninggalkan area bandara sebelum kembali melakukan perjalanan menuju Jakarta dengan membawa bagasi tersebut.
Polisi Malaysia menduga pelaku memanfaatkan alur perjalanan penerbangan untuk menyamarkan pengiriman narkoba.
“Pemeriksaan menemukan bahwa tersangka sempat datang ke KLIA pada pagi hari, melakukan check-in untuk bagasi yang berisi narkoba tersebut, lalu meninggalkannya di KLIA sebelum terbang ke Kota Kinabalu,” jelas Hussein.
Setelah kembali ke Kuala Lumpur, tersangka kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jakarta dengan membawa barang yang sama.
Kopilot Ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta
Petugas Indonesia menangkap Mohd Saufi di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Penangkapan tersebut terjadi setelah petugas menemukan narkoba dalam pemeriksaan menggunakan mesin X-ray.
Dari pemeriksaan tersebut, petugas menemukan sekitar 26 kilogram narkoba yang terdiri dari ekstasi dan sabu.
Kepala Kantor Bea Cukai Soekarno-Hatta, Hengky Tomuan Parlindungan Aritonang, mengatakan pelaku terlihat tenang saat menjalani pemeriksaan awal.
“Yang pasti ukuran orang yang membawa narkotika sangat tenang. Berarti memang masih di bawah pengaruh,” ujar Hengky.
Penangkapan ini menjadi perhatian karena pelaku merupakan bagian dari awak penerbangan internasional.
Malaysia dan Indonesia Perkuat Penyelidikan Bersama
Polisi Malaysia kini menunggu informasi lanjutan dari Polri terkait perkembangan penyidikan di Indonesia. Selain itu, pihak Malaysia juga berencana mengirim petugas ke Jakarta untuk membantu proses pemeriksaan dan pengumpulan informasi. Kerja sama kedua negara menjadi langkah penting untuk membongkar jaringan yang berada di balik peredaran narkoba tersebut.
Penyidik masih terus mencari kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat. Mereka juga mendalami peran setiap pihak dalam jalur distribusi narkoba hingga sampai ke tangan kopilot tersebut.
Kasus ini menunjukkan bahwa jaringan narkoba internasional terus mencari berbagai cara untuk melewati sistem keamanan. Aparat kedua negara kini berupaya memutus jalur tersebut agar tidak kembali terjadi.