Musim kemarau 2026 makin kering di sejumlah wilayah Indonesia, memperpanjang hari tanpa hujan dan meningkatkan risiko karhutla yang perlu diwaspadai warga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ribuan titik pengamatan mengalami hari tanpa hujan dalam waktu lama. Pada awal Agustus, sebanyak 1.657 titik mengalami hari tanpa hujan selama 31-60 hari. Sebanyak 306 titik lainnya bahkan mencatat periode tanpa hujan lebih dari 60 hari. Simak ulasan lengkapnya dari KEPPO INDONESIA.
Musim Kemarau Makin Kering, Karhutla Mengintai
Wilayah yang mengalami hari tanpa hujan sangat panjang hingga ekstrem tersebar di sejumlah daerah. Kondisi tersebut terutama terlihat di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi.
BMKG memprediksi risiko karhutla mencapai titik rawan pada Agustus hingga September 2026. Sumatera dan Kalimantan menjadi wilayah yang mendapat perhatian karena kondisi cuaca kering dapat membuat vegetasi lebih mudah terbakar.
Situasi semakin perlu mendapat perhatian karena kebakaran di lahan gambut tidak selalu selesai ketika api terlihat padam. Bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali memicu kebakaran ketika kondisi mendukung.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Hotspot di Kalimantan Tembus 1.487 Titik
Pemantauan satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8/2026) menunjukkan 1.487 titik panas atau hotspot tersebar di wilayah Kalimantan. Kalimantan Tengah mencatat jumlah tertinggi dengan 767 titik.
Kalimantan Barat berada di posisi berikutnya dengan 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing mencatat 74 titik. Kalimantan Utara mencatat tiga titik panas.
BNPB juga mencatat sejumlah kejadian bencana baru dalam periode Kamis hingga Jumat (21/8/2026). Seluruh kejadian yang masuk dalam laporan tersebut berkaitan dengan karhutla.
Data ini menunjukkan bahwa ancaman kebakaran tidak hanya terlihat dari peta satelit. Api di lapangan dapat mengganggu aktivitas masyarakat, merusak ekosistem, serta menurunkan kualitas udara jika kebakaran berkembang menjadi besar.
Baca Juga:Â Ruben Onsu Jadi Tersangka Dugaan Penipuan, Ini Awal Mula Kasusnya
Bakar Lahan Masih Jadi Masalah
Di tengah kondisi kering, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih terjadi. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyebut aparat telah menangani sembilan kasus pidana pembakaran hutan.
Dari sembilan kasus tersebut, empat perkara sudah masuk tahap penetapan tersangka. Tiga kasus berada di Riau dan satu kasus terjadi di Kalimantan Barat. Selain itu, aparat masih menangani beberapa perkara lain di Kalimantan Barat dan Sumatera Utara.
Pemerintah juga memberikan sanksi kepada sejumlah perusahaan pemegang perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Sebanyak 13 PBPH mendapat surat peringatan terkait hotspot dan kewajiban pelaporan, sedangkan 14 PBPH lainnya menerima sanksi administratif.
Pemerintah Larang Pembukaan Lahan dengan Membakar
Kementerian Lingkungan Hidup telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 16 Tahun 2026 tentang Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar pada 10 Agustus 2026. Pemerintah mengarahkan kebijakan tersebut kepada gubernur, bupati, dan wali kota sebagai langkah pencegahan.
Pemerintah memperketat perhatian terhadap pembakaran lahan karena kondisi iklim saat ini semakin kering. El Nino dengan intensitas kuat juga berlangsung sejak Juli 2026 dan ikut memperbesar risiko kekeringan di sejumlah daerah.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menegaskan pemerintah tidak memberikan ruang bagi praktik pembukaan lahan menggunakan api. Menurutnya, semua pihak perlu mematuhi aturan untuk menjaga lingkungan sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.
Asap Karhutla Bisa Ganggu Kesehatan Warga
Pembakaran lahan bukan hanya menimbulkan persoalan lingkungan. Asap yang muncul dari kebakaran juga dapat mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat di sekitar lokasi.
Pakar lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Daniel Murdiyarso, menilai faktor manusia masih memiliki peran besar dalam terjadinya kebakaran. Menurutnya, sebagian masyarakat memilih membakar karena cara tersebut dianggap mudah dan murah untuk membersihkan lahan.
Masalahnya, kondisi kemarau membuat api lebih cepat menyebar. Lahan yang kering, angin, serta minimnya hujan dapat membuat kebakaran sulit dikendalikan jika api sudah merembet ke area yang lebih luas.
Karena itu, masyarakat perlu menghindari pembakaran sampah maupun lahan selama kondisi kering. Jika menemukan titik api, warga sebaiknya segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar petugas dapat melakukan penanganan sebelum api meluas.
Ancaman karhutla pada musim kemarau 2026 membutuhkan perhatian bersama. Pemerintah dapat memperkuat patroli dan pemadaman, tetapi pencegahan dari masyarakat tetap menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran.