Ketegangan AS-Iran kembali memanas setelah Selat Hormuz ditutup dan serangan militer terjadi, memicu kekhawatiran dunia terhadap konflik baru.
AS menyebut sekitar 140 target militer Iran menjadi sasaran dalam operasi tersebut. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Iran harus menghadapi konsekuensi atas tindakan yang dilakukan sebelumnya.
“Iran membuat pilihan yang buruk. Mereka menanggung akibatnya sekarang,” kata Pete Hegseth seperti dikutip BBC, Minggu (12/7/2026). Simak ulasan lengkapnya dari KEPPO INDONESIA.
Selat Hormuz Ditutup, Jalur Energi Dunia Kembali Terancam
Penutupan Selat Hormuz langsung menarik perhatian internasional karena jalur laut tersebut memiliki peran penting bagi perdagangan energi global. Banyak negara bergantung pada kawasan itu untuk mengangkut minyak dan berbagai komoditas energi.
Ketegangan bermula ketika tiga kapal tanker mengalami serangan saat mencoba melewati jalur laut internasional. Kapal-kapal tersebut sebelumnya mengikuti rute perairan Oman yang direkomendasikan oleh pihak AS.
Namun, Iran menyatakan jalur aman berada di rute berbeda yang melewati wilayah perairannya. Perbedaan pandangan mengenai jalur pelayaran tersebut kemudian memicu aksi saling balas antara kedua pihak.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
AS Lancarkan Serangan, Iran Siapkan Balasan Keras
Setelah situasi semakin panas, AS melakukan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran. Washington menyebut langkah tersebut sebagai respons terhadap tindakan Iran di kawasan.
Di sisi lain, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberikan respons dengan menyerang beberapa fasilitas militer AS dan negara sekutunya.
Salah satu sasaran serangan Iran berada di pangkalan militer AS di Yordania. Selain itu, Iran juga meluncurkan serangan menggunakan rudal dan drone ke beberapa wilayah yang menjadi lokasi keberadaan pasukan AS dan sekutunya, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, serta Bahrain.
Baca Juga:Â Geger! Bupati Sukoharjo Diduga Punya Safe House, Aset Rp21,2 Miliar Jadi Sorotan
Konflik AS-Iran Kembali Mengguncang Timur Tengah
IRGC menegaskan Iran akan memberikan respons keras terhadap setiap tindakan AS yang berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz. Mereka juga menyatakan telah menyiapkan daftar target baru jika konflik terus berkembang.
Situasi tersebut membuat kekhawatiran mengenai stabilitas kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Banyak pihak menilai eskalasi konflik dapat memberikan dampak luas, terutama terhadap keamanan kawasan dan kondisi ekonomi global.
Ketegangan terbaru ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan upaya perdamaian antara AS dan Iran. Kedua negara kembali saling menyalahkan terkait berakhirnya kesepakatan gencatan senjata.
Trump dan Iran Saling Tuding soal Gencatan Senjata
Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan Iran menunjukkan bahwa kesepakatan gencatan senjata telah berakhir. Menurutnya, tindakan Iran menjadi alasan utama meningkatnya kembali konflik kedua negara.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memiliki pandangan berbeda. Ia menilai AS justru menjadi pihak yang lebih dulu melanggar kesepakatan tersebut.
Perbedaan klaim dari kedua pihak membuat situasi diplomasi semakin rumit. Meski begitu, sejumlah pemimpin AS tetap membuka peluang untuk melanjutkan pembicaraan guna mencari jalan keluar dari konflik yang kembali memanas.
Dunia Menunggu Langkah Berikutnya dari AS dan Iran
Para mediator internasional terus berupaya menjaga jalur komunikasi antara AS dan Iran agar konflik tidak berkembang semakin luas. Mereka mendorong kedua negara menahan diri dan kembali mengutamakan jalur diplomasi.
Namun, penutupan Selat Hormuz dan aksi militer yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat banyak negara meningkatkan kewaspadaan. Dunia kini menunggu apakah kedua negara akan memilih melanjutkan konfrontasi atau kembali membuka ruang negosiasi.
Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kawasan Timur Tengah, tetapi juga dapat memengaruhi perdagangan, harga energi, dan stabilitas ekonomi berbagai negara di dunia.