Video siswa membawa tumpukan ompreng MBG viral di media sosial, salah satunya memperlihatkan para siswa menjinjing ompreng sambil menaiki tangga di sana.
Video lain memperlihatkan sejumlah siswa membawa ompreng melewati jalan kecil karena kendaraan pengantar makanan tidak bisa masuk ke area sekolah. Pemandangan tersebut kemudian memunculkan beragam komentar dari warganet.
Sebagian warganet mempertanyakan apakah siswa memang perlu ikut mengangkut ompreng dalam jumlah banyak. Mereka juga menyoroti faktor keselamatan, terutama ketika siswa membawa tumpukan yang dapat menghalangi pandangan saat berjalan.
Video Siswa Angkut Ompreng Ramai Dibahas
Perhatian warganet muncul setelah beberapa video memperlihatkan siswa membantu membawa ompreng MBG menuju sekolah. Kondisinya terlihat berbeda dari situasi pembagian makanan yang biasanya berlangsung di area sekolah.
Salah satu video menunjukkan siswa menaiki tangga tanpa railing sambil membawa tumpukan ompreng. Dalam video lainnya, para siswa berjalan melalui gang sempit karena kendaraan pengantar MBG tidak bisa mencapai bangunan sekolah.
Situasi tersebut membuat sejumlah pengguna media sosial mempertanyakan pembagian tugas dalam pelaksanaan program. Mereka menilai sekolah perlu memperhatikan keselamatan siswa ketika meminta bantuan dalam kegiatan di sekitar pembagian makanan.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Rasakan Serunya Nonton Live Streaming Sepak Bola Setiap Saat!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Respons Kepala BGN terhadap Warganet
Menanggapi perbincangan yang ramai di media sosial, Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Sudaryono turut memberikan respons. Ia menyampaikan pandangannya dalam Webinar Literasi Gizi bagi Kepala Sekolah yang tayang melalui kanal YouTube BGN pada Selasa, 15 September 2026.
Sudaryono menyoroti perbedaan reaksi warganet terhadap keterlibatan siswa dalam kegiatan MBG di Indonesia dan konten serupa dari sejumlah negara lain. Ia mencontohkan konten dari China dan Jepang yang memperlihatkan siswa ikut mencuci ompreng setelah makan.
Menurut Sudaryono, kegiatan sederhana seperti mengantre, mengambil makanan, dan membantu petugas dapat menjadi bagian dari pembiasaan di sekolah. Ia mengaitkan kebiasaan tersebut dengan pembentukan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga:Â Intip Survei Line soal Kesiapan Bencana, Apa Pelajarannya bagi Indonesia?
BGN Bicara soal Kebiasaan di Sekolah
Sudaryono menjelaskan bahwa literasi dalam program MBG tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan tentang gizi. Sekolah juga dapat mengenalkan kebiasaan seperti mengantre, bersabar, bersyukur, berdoa, mencuci tangan, serta menjaga kebersihan.
Menurutnya, kebiasaan yang siswa lakukan secara rutin dapat membentuk pola perilaku hingga mereka dewasa. Ia menilai pengalaman sederhana di lingkungan sekolah dapat ikut membangun kedisiplinan dan kebiasaan positif.
Namun, pembiasaan tersebut tetap perlu berjalan dengan memperhatikan kondisi dan keamanan siswa. Kegiatan yang melibatkan anak-anak membutuhkan pengawasan guru serta penyesuaian dengan situasi di lingkungan sekolah.
Program MBG Tak Hanya Soal Makan
Deputi Promosi dan Kerja Sama BGN Mariman Darto sebelumnya menjelaskan bahwa program MBG juga membawa misi pembentukan karakter. Guru dapat mendampingi siswa selama kegiatan makan bersama sekaligus mengenalkan berbagai kebiasaan yang berkaitan dengan disiplin dan kebersihan.
Rangkaian kebiasaan tersebut mencakup memberi salam, menyampaikan rasa syukur, mencuci tangan sebelum makan, serta mengantre ketika mengambil makanan. Guru juga dapat mengajak siswa berdoa sebelum dan sesudah makan.
Selain itu, siswa mendapat kesempatan mengenal kandungan gizi dari makanan yang mereka konsumsi. Mereka juga belajar mengenali ciri makanan yang sebaiknya tidak mereka makan.
Keselamatan Siswa Tetap Jadi Perhatian
Perbincangan soal siswa yang membawa ompreng menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG memiliki banyak aspek yang perlu diperhatikan. Program ini bukan hanya soal makanan sampai ke meja siswa, tetapi juga menyangkut cara sekolah mengatur proses pembagian dan kegiatan setelah makan.
Ketika kondisi sekolah membuat kendaraan pengantar tidak bisa masuk, pihak sekolah perlu mencari cara yang aman untuk memindahkan ompreng. Guru dan petugas juga perlu mempertimbangkan usia siswa, kondisi jalan, jumlah barang, serta risiko yang mungkin muncul.
Dengan begitu, pembiasaan disiplin dan tanggung jawab dapat berjalan tanpa mengabaikan keamanan siswa. Perdebatan yang muncul di media sosial pun dapat menjadi bahan evaluasi agar pelaksanaan MBG di sekolah berjalan lebih tertib dan aman.