FBI memperingatkan California tentang potensi serangan balasan Iran menyusul konflik Timur Tengah, meski ancaman belum dipastikan.
Menyusul serangan militer AS terhadap Iran pada 28 Februari, FBI memperingatkan otoritas California soal potensi serangan balasan. Peringatan sudah dikeluarkan sejak awal Februari. Meski Gubernur California Gavin Newsom dan Presiden AS Donald Trump menilai ancaman tidak mendesak, laporan intelijen tetap memetakan skenario serangan Teheran terhadap wilayah California.
Temukan informasi menarik dan berita paling terviral lainnya di bawah ini yang bisa memperluas wawasan Anda, hanya di KEPPO INDONESIA.
Sel Tidur di Amerika
Salah satu kekhawatiran terbesar otoritas keamanan adalah aktivasi “sel tidur” atau kelompok penyamar yang sudah berada di dalam AS. Laporan terbaru menyebutkan AS telah mencegat transmisi yang kemungkinan berasal dari Iran untuk mengaktifkan aset-aset tersebut setelah gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Mantan Kepala Kontraterorisme Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD), Horace Frank, menjelaskan bahwa ancaman ini bukan hal baru. “Sel tidur selalu menjadi kekhawatiran jika menyangkut Iran dan proksinya,” ujar Frank, menekankan bahwa situasinya kini lebih genting.
Meskipun demikian, Presiden Trump menyatakan pihaknya telah memantau situasi dengan ketat. “Mereka telah mencoba sejak lama, dan kami sangat menguasai keadaan. Kami mengawasi setiap dari mereka, ya. Kami tahu banyak tentang mereka,” tegas Trump.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Serangan Drone Dari Lepas Pantai
FBI mengendus adanya rencana Iran untuk meluncurkan drone dari kapal yang berada di lepas pantai AS. Strategi ini dianggap sebagai cara untuk mengakali jarak geografis yang jauh antara Iran dan AS. Peringatan ini telah disalurkan kepada departemen kepolisian di California.
Anggota parlemen Iran Amir Hayat-Moqaddam sebelumnya sempat memberikan peringatan keras bahwa rudal mereka mungkin akan menghantam Washington secara langsung. Namun, kemampuan angkatan laut Iran saat ini diragukan setelah mengalami kerusakan berat akibat perang.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa angkatan laut Iran kini sudah lumpuh akibat perang. Walau begitu, pakar strategi pertahanan dari Hudson Institute, Can Kasapoglu, memperingatkan bahwa Teheran bisa saja menggunakan kapal komersial yang dimodifikasi secara terselubung untuk meluncurkan drone tempur atau rudal balistik anti-kapal.
Baca Juga: 5 Fakta Mengejutkan Permintaan Maaf Rismon ke Jokowi, Apakah Ada Motif Tersembunyi?
Perang Siber Dan Peretasan
Skenario yang paling mungkin terjadi dalam waktu dekat adalah serangan siber dan peretasan. Laporan Kementerian Keamanan Dalam Negeri menyoroti ancaman dari kelompok peretas atau hacktivist yang menargetkan jaringan AS. Kelompok peretas Handala Team yang berafiliasi dengan Iran baru-baru ini mengklaim bertanggung jawab atas serangan siber terhadap perusahaan teknologi medis Michigan, Stryker.
Sektor keuangan, penerbangan, telekomunikasi, dan infrastruktur kritis diprediksi akan menjadi target utama dalam konflik yang terus berlanjut ini. Ancaman siber ini menunjukkan kerentanan sistem modern terhadap serangan non-konvensional.
Kewaspadaan terhadap serangan siber menjadi krusial karena dampaknya bisa melumpuhkan sistem vital negara. Pelaku ancaman terus mengembangkan teknik baru untuk menyusup dan merusak infrastruktur digital.
Rudal Balistik Antarbenua (ICBM)
Secara teknis, Iran memiliki gudang rudal terbesar di Timur Tengah. Namun, untuk mencapai pantai barat AS, diperlukan Rudal Balistik Antarbenua (ICBM) dengan jangkauan minimal 12.000 km. Menurut penilaian pemerintah federal tahun 2025, Iran diperkirakan masih membutuhkan waktu hingga sembilan tahun untuk memiliki kemampuan tersebut.
Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada 3 Maret juga mengonfirmasi hal serupa. “Iran belum menguji atau mengerahkan rudal yang mampu menghantam AS,” tulis laporan CSIS.
Meskipun demikian, Iran terus mengasah teknologi rudal jarak jauh melalui program peluncuran ruang angkasa mereka yang memiliki teknologi serupa dengan rudal balistik. Perkembangan ini menunjukkan potensi ancaman di masa depan.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di KEPPO INDONESIA agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari internasional.kompas.com
- Gambar Kedua dari bbc.com