Situasi di Masjid Ibrahimi, Hebron, kembali memanas setelah pasukan Israel melarang seruan azan selama lima hari berturut-turut.
Kebijakan ini langsung memicu sorotan karena terjadi di salah satu situs keagamaan paling penting bagi umat Muslim dan Yahudi. Larangan ini tidak hanya berdampak pada aktivitas ibadah, tetapi juga mempertegas ketegangan yang sudah lama berlangsung di wilayah Tepi Barat yang diduduki.
Warga Palestina menyebut kondisi ini sebagai bagian dari pembatasan yang semakin ketat di area tersebut. Simak ulasan lengkapnya dari KEPPO INDONESIA.
Larangan Azan Berlangsung Lima Hari Berturut-Turut
Sumber Palestina melaporkan bahwa seruan azan tidak lagi terdengar sejak hari Minggu. Aktivitas ibadah tetap berjalan, tetapi tanpa panggilan azan dari muazin seperti biasanya.
Pihak Israel berdalih bahwa langkah tersebut berkaitan dengan pekerjaan pemeliharaan di area masjid. Mereka juga tengah melakukan persiapan pemasangan atap di halaman tengah kompleks Masjid Ibrahimi.
Namun, warga setempat menilai alasan itu tidak sepenuhnya menjelaskan situasi di lapangan, terutama karena akses muazin ke ruang azan ikut dibatasi.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Muazin Dibatasi, Akses Ruang Azan Ditutup
Ruangan tempat azan biasanya dikumandangkan berada di area yang kini berada di bawah kendali Israel. Tentara disebut menolak memberikan akses kepada muazin untuk masuk ke lokasi tersebut.
Akibatnya, azan yang seharusnya dikumandangkan pada waktu salat tidak lagi terdengar di area masjid. Kondisi ini membuat sebagian jamaah merasa aktivitas ibadah menjadi tidak seperti biasanya.
Meski begitu, salat tetap berlangsung di dalam masjid, hanya saja tanpa panggilan azan yang menjadi penanda waktu ibadah.
Baca Juga:Â Bikin Penasaran! Ginka Febriyanti Resmi Jadi Komisaris Pertamina Retail, Ini Profilnya
Ketegangan Lama di Masjid Ibrahimi

Masjid Ibrahimi bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga lokasi bersejarah yang memiliki makna penting bagi beberapa agama. Pada tahun 1994, tragedi penembakan yang dilakukan seorang pemukim menewaskan 29 jemaah Palestina dan meninggalkan luka mendalam.
Sejak saat itu, pengelolaan masjid terbagi, dengan sebagian area berada di bawah kendali Israel dan sebagian lainnya untuk umat Muslim. Pembagian ini sering memicu ketegangan di lapangan.
Warga Palestina menilai kontrol Israel atas situs tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Aturan Akses dan Pembatasan Semakin Ketat
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pembatasan terhadap warga Palestina semakin sering terjadi. Pengusiran staf masjid, pembatasan jamaah, hingga pengalihan kontrol administratif menjadi bagian dari kebijakan yang berjalan bertahap.
Otoritas Palestina mengecam langkah tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang mempersempit ruang kehadiran warga Palestina di tempat ibadah itu. Mereka juga menyoroti pengusiran dua pengurus masjid yang tidak diizinkan masuk selama 12 hari.
Menurut pengamat lokal, pembatasan ini bukan hal baru, tetapi intensitasnya meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Dampak di Lapangan dan Respons Warga
Warga setempat menggambarkan situasi yang berubah-ubah tergantung kondisi keamanan dan kebijakan yang berlaku. Dalam beberapa periode, larangan azan diterapkan lebih ketat, sementara di waktu lain sedikit lebih longgar.
Namun, dalam praktiknya, pembatasan tetap terasa bagi jamaah yang ingin beribadah. Bahkan, dalam satu bulan bisa terjadi puluhan kali azan tidak terdengar akibat pembatasan akses.
Sejumlah warga juga mengeluhkan pengusiran di pintu masuk masjid yang dikendalikan militer. Mereka menilai tindakan tersebut sering terjadi tanpa penjelasan yang jelas.
Di tengah situasi ini, Masjid Ibrahimi kembali menjadi simbol ketegangan yang belum menemukan titik reda. Perdebatan soal kebebasan beribadah dan kontrol keamanan masih terus berlangsung di wilayah tersebut.