Negara-negara Arab bergerak cepat mendukung AS dan Israel setelah serangan Iran, memperkuat aliansi serta respons militer bersama.
Konflik besar Timur Tengah memasuki fase baru setelah serangan militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran akhir Februari 2026. Operasi bernama Operation Lion’s Roar memicu respons dari Tehran, negara-negara Arab di Teluk, dan kekuatan dunia. Eskalasi ini mendorong debat global soal legalitas militer, keamanan regional, dan masa depan diplomasi kawasan strategis.
Temukan informasi menarik dan berita paling terviral lainnya di bawah ini yang bisa memperluas wawasan Anda, hanya di KEPPO INDONESIA.
Serangan Gabungan AS Dan Israel ke Iran
Serangan militer berskala besar itu diluncurkan pada 28 Februari 2026, ketika pasukan Amerika Serikat dan Israel membombardir target‑target strategis di Iran, termasuk fasilitas komando dan sistem pertahanan udara. Operasi yang dikenal dengan Operation Lion’s Roar dipicu oleh kekhawatiran bahwa program militer Iran menjadi ancaman eksistensial bagi Israel dan sekutunya.
Pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa serangan tersebut direncanakan sebagai upaya menghentikan kemampuan militer Iran yang mengancam stabilitas regional. Sementara itu, AS menyangkal adanya tujuan untuk “mengganti rezim”, tetapi mereka menegaskan bahwa langkah militer itu perlu untuk melumpuhkan ancaman.
Reaksi internasional muncul cepat: badan dunia dan negara-negara besar mendesak de‑eskalasi dan mengutuk peningkatan konflik bersenjata yang berpotensi meluas ke wilayah lebih luas.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Respons Iran Dan Retaliasi Regional
Tak lama setelah serangan, Iran melakukan serangan balasan besar‑besaran dengan rudal dan drone ke pangkalan militer AS dan sasaran Israel. Serangan tersebut juga menargetkan fasilitas di negara‑negara Teluk yang dianggap mendukung operasi tersebut. Republik Islam menegaskan bahwa langkah itu adalah bentuk “hak membela diri”.
Beberapa negara Arab menjadi sasaran serangan Iran, termasuk wilayah di Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Saudi Arabia yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Serangan ini memperparah ketegangan antara Iran dengan sekutu‑sekutu Barat dan negara‑negara Arab yang selama ini memiliki hubungan rumit dengan Tehran.
Baru dalam beberapa bulan terakhir, retaliasi Iran itu memantik kekhawatiran luas tentang keamanan warga sipil serta gangguan pada jalur energi global seperti Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute utama minyak dunia yang apabila terganggu bisa memicu gejolak ekonomi dan pasar energi global.
Baca Juga: Krisis Energi Global! Iran Resmi Blokir Selat Hormuz, Pasokan Minyak Terancam!
Posisi Negara‑Negara Arab di Tengah Kekacauan
Beberapa negara Arab Teluk menanggapi konflik ini dengan kecaman tegas terhadap tindakan Iran. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan negara lain menyebut serangan balasan Iran sebagai pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat diterima.
Arab Saudi bahkan menyatakan kesiapan untuk berkontribusi pada upaya pertahanan kolektif terhadap serangan Iran. Meski hubungan Riyadh dengan Israel masih pada tingkat diplomasi yang relatif baru setelah beberapa kesepakatan normalisasi.
Namun, ada pula kecemasan kuat bahwa escalasi militer tidak sejalan dengan kepentingan stabilitas regional jangka panjang. Beberapa pemerintahan Arab khawatir perang berkepanjangan dapat mengganggu ekonomi, termasuk sektor energi, dan mengancam keamanan nasional mereka.
Reaksi Global Dan Implikasi Diplomatik
Dunia internasional bereaksi cepat terhadap konflik ini. Sekretaris‑Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam intensifikasi kekerasan dan menyerukan penghentian segera pertempuran, menekankan bahwa konflik tidak boleh menggagalkan upaya diplomasi.
Sementara itu, negara‑negara besar seperti Rusia dan China mengutuk tindakan militer AS dan Israel terhadap Iran sebagai pelanggaran hukum internasional. Mereka mendesak de‑eskalasi, sedangkan sejumlah negara Eropa menyerukan perlindungan terhadap warga sipil serta pendekatan diplomatik untuk mengakhiri konflik.
Konflik ini juga memicu diskusi tentang masa depan keamanan di Timur Tengah dan peran aliansi strategis antara kekuatan Barat dan negara‑negara Arab. Dampaknya diperkirakan akan jauh melampaui batas wilayah konflik, mencakup geopolitik energi, perdagangan internasional, dan stabilitas keamanan global.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di KEPPO INDONESIA agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
- Gambar Utama dari keppoid.com
- Gambar Kedua dari keppoid.com