Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui kebijakan injeksi likuiditas Rp 200 triliun tidak berjalan sesuai perhitungan awal.
Dana yang disuntikkan pemerintah justru kembali terserap Bank Indonesia sehingga pertumbuhan uang primer tidak bertahan lama. Kondisi ini membuat efektivitas stimulus berkurang dan target pertumbuhan kredit meleset.
Simak berita terbaru dan viral setiap hari, yang menghadirkan informasi menarik dan bermanfaat hanya ada di KEPPO INDONESIA.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Stimulus Likuiditas Melenceng dari Proyeksi Awal
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa kebijakan injeksi likuiditas senilai Rp 200 triliun yang dirancang pemerintah tidak berjalan seefektif yang telah diperhitungkan sebelumnya. Kebijakan tersebut awalnya diharapkan mampu mendorong pertumbuhan uang primer (base money) secara signifikan dan memberikan dampak positif.
Namun dalam praktiknya, dana likuiditas yang telah disuntikkan ke sistem keuangan justru kembali terserap oleh Bank Indonesia (BI). Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan uang primer tidak bertahan lama dan efek stimulus terhadap sektor riil menjadi terbatas. Situasi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Purbaya menyampaikan bahwa berdasarkan perhitungannya, injeksi Rp 200 triliun seharusnya mampu meningkatkan pertumbuhan uang primer (M0) hingga sekitar 13 persen. Dengan angka tersebut, pemerintah memperkirakan pertumbuhan kredit pada akhir tahun dapat mencapai dua digit.
Serapan BI Menahan Laju Efektivitas Likuiditas
Dalam keterangannya kepada media di Menara IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026), Purbaya mengungkapkan bahwa terdapat kemungkinan miskomunikasi atau sinyal kebijakan yang tidak sepenuhnya direspons oleh otoritas moneter. Akibatnya, proses penyerapan likuiditas oleh BI tidak berjalan sesuai dengan waktu yang diharapkan.
Ia menjelaskan bahwa penyerapan likuiditas baru berlangsung secara bertahap mulai pekan kedua September 2025. Pada periode tersebut, BI mulai menarik kembali dana likuiditas secara perlahan dan berlanjut hingga beberapa bulan berikutnya. Proses ini membuat dampak ekspansi likuiditas menjadi lebih singkat dari yang direncanakan.
Akibat penyerapan tersebut, pada satu titik tertentu pertumbuhan base money justru kembali turun mendekati nol. Kondisi ini dinilai mengurangi efektivitas kebijakan stimulus yang seharusnya mendorong aktivitas ekonomi dan mempercepat pemulihan kredit. “Itu yang membuat kebijakannya tidak seefektif yang saya rencanakan,” ujar Purbaya.
Baca Juga: Tragedi Di Depok, Mahasiswi Unas Ditemukan Tewas Di Teras Kosnya
Jeda Data Memperlambat Respons Kebijakan
Selain faktor penyerapan likuiditas, Purbaya juga menyoroti adanya jeda waktu atau delay dalam pemantauan data ekonomi. Menurutnya, keterlambatan dalam membaca data aktual menyebabkan respons kebijakan tidak dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
Ia menjelaskan bahwa ketika likuiditas mulai membaik, aliran dana biasanya tidak langsung masuk ke sektor riil. Sebagian dana cenderung lebih dahulu mengalir ke pasar keuangan, khususnya pasar saham dan pasar obligasi. Pola ini kerap terjadi dalam fase awal pelonggaran likuiditas.
Pergerakan tersebut tercermin dari kenaikan indeks saham serta penurunan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah. Indikator pasar keuangan ini menjadi sinyal awal bahwa likuiditas mulai meningkat, meskipun dampaknya terhadap kredit perbankan dan sektor riil membutuhkan waktu lebih panjang untuk terlihat.
Kepercayaan Terhadap Pasar Saham Masih Kuat
Di tengah dinamika kebijakan likuiditas tersebut, Purbaya menyampaikan keyakinannya terhadap prospek pasar saham nasional. Ia menilai bahwa pasar modal masih memiliki ruang untuk melanjutkan tren penguatan, meskipun dalam jangka pendek tetap berpotensi mengalami fluktuasi.
Menurutnya, pergerakan naik di pasar saham merupakan respons alami terhadap membaiknya likuiditas dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi ke depan. Walaupun koreksi sesaat bisa terjadi, arah jangka menengah hingga panjang dinilai masih positif.
“Stock market naik, walaupun nanti bisa turun lagi sebentar. Tapi saya yakin akan naik lebih tinggi dari itu,” tandas Purbaya. Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme pemerintah bahwa stabilitas kebijakan makroekonomi dan koordinasi lintas otoritas akan tetap menjadi penopang utama kepercayaan pasar.
Simak dan terus membaca untuk informasi lainya yang akan kami berikan yang terbaru dan terviral hanya ada di KEPPO INDONESIA.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari money.kompas.com
- Gambar Kedua dari money.kompas.com