Massa pengemudi ojek online menggeruduk kantor SMRC akibat sebuah peristiwa yang memicu kemarahan, berikut kronologi dan penyebab kejadiannya.
Puluhan pengemudi ojek online (ojol) menggeruduk kantor Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (14/4/2026). Aksi massa yang mengenakan jaket ojol itu merupakan buntut dari pernyataan kontroversial pendiri SMRC, Saiful Mujani, yang dinilai mengandung ajakan menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto di luar jalur konstitusional.
Temukan rangkuman informasi paling menarik dan sedang viral di bawah ini yang siap menambah wawasan Anda, hanya di KEPPO INDONESIA.
Kronologi Aksi Massa di Depan Kantor SMRC
Aksi berlangsung di depan kantor SMRC di kawasan Gondangdia, Menteng, sekitar siang hari. Massa yang mengatasnamakan Perhimpunan Ojek Online Indonesia tiba sekitar pukul 12.00 WIB dengan memanfaatkan mobil komando untuk menyampaikan orasi dan tuntutan.
Puluhan peserta aksi berorasi secara bergantian, menuntut keterbukaan publik dan penjelasan formal dari Saiful Mujani. Salah seorang orator menyebut SMRC sebagai “lembaga survei yang sengaja menggoreng opini publik untuk kepentingan politik tertentu”.
Pengawalan kepolisian diterjunkan untuk mengamankan lokasi aksi dan mengatur arus lalu lintas di sekitar Jalan Cik Ditiro, Gondangdia. Meski suasana cukup tensi, aksi berjalan tanpa bentrok fisik dan sejumlah orator kembali menegaskan tuntutan utama agar Saiful Mujani mencabut dan meminta maaf atas pernyataannya.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Penyebab Munculnya Kemarahan Massa Ojol
Kemarahan massa ojol muncul setelah pernyataan Saiful Mujani dalam sebuah acara halal bihalal yang menyerukan konsolidasi masyarakat untuk menjatuhkan presiden di luar jalur konstitusional, beredar luas di media sosial. Pernyataan itu dianggap mengarah pada ajakan makar dan menggoyahkan stabilitas politik nasional.
Perhimpunan Ojek Online Indonesia menilai pernyataan tersebut berbahaya secara politik dan dapat memicu kericuhan sosial. Ketua umumnya menegaskan bahwa narasi ajakan menjatuhkan presiden secara tidak demokratis bisa memecah belah bangsa dan menimbulkan keresahan di masyarakat, termasuk di kalangan pengemudi ojek online.
Bagi massa, SMRC sebagai lembaga survei dan konsultan politik memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik. Mereka berharap lembaga‑lembaga seperti SMRC bisa menjaga netralitas dan tidak menjadi instrumen untuk menggerakkan opini sektarian atau menghasut massa menjatuhkan pemerintah.
Baca Juga: Heboh! Dugaan Penistaan Agama Seret Nama JK, Ini Tanggapan Tegasnya
Tuntutan Massa Terhadap Saiful Mujani
Massa ojol menuntut agar Saiful Mujani secara terbuka mencabut pernyataan kontroversialnya dan menyampaikan permintaan maaf kepada publik, khususnya kepada masyarakat pengguna ojol dan masyarakat Indonesia secara luas. Tuntutan ini juga disertai dengan desakan agar SMRC menjelaskan konteks lengkap pernyataan tersebut, bukan hanya potongan video yang viral.
Sejumlah peserta aksi meneriakkan ajakan “tangkap dan adili Saiful Mujani” sebagai bentuk penegasan tuntutan mereka. Mereka mendesak penegakan hukum jika ditemukan unsur makar atau penghasutan dalam pernyataan tersebut. Namun orator utama juga menegaskan bahwa aksi ini tidak ingin mengganggu proses hukum yang tengah berjalan.
Ketua umum Perhimpunan Ojek Online Indonesia menegaskan bahwa aksi ini bukan hanya soal politik elite, tetapi juga bentuk kepedulian masyarakat kecil terhadap stabilitas negara. Mereka khawatir jika narasi kontroversial dibiarkan tanpa klarifikasi, akan mendorong polarisasi dan konflik di tengah masyarakat.
Respons Smrc, Pihak Terkait, dan Keheningan Publik
Pihak SMRC belum mengeluarkan pernyataan resmi yang secara rinci menanggapi langsung tuntutan massa ojol di kantornya. Namun sebelumnya, Saiful Mujani telah memberikan klarifikasi bahwa pernyataannya merupakan bagian dari sikap politik, bukan ajakan makar. Ia juga menegaskan pentingnya penegakan hukum yang objektif.
Sejumlah pihak, termasuk anggota DPR dan aktivis, turut menyoroti pernyataan Saiful Mujani. Mereka menilai seruan untuk menjatuhkan presiden di luar jalur konstitusional bertentangan dengan prinsip demokrasi dan berpotensi mengancam keamanan negara.
Bagi masyarakat luas, aksi ojol di kantor SMRC menjadi simbol perlawanan politik dari kalangan rakyat kecil. Di tengah perdebatan, banyak yang berharap polemik ini dapat diurai melalui dialog publik, klarifikasi lengkap, dan, bila diperlukan, proses hukum yang transparan. Bukan hanya gelombang emosi sosial media.
Temukan rangkuman informasi paling menarik dan sedang viral di bawah ini yang siap menambah wawasan Anda, hanya di KEPPO INDONESIA!
Sumber Informasi Gambar:
Gambar Pertama dari cnnindonesia.com
Gambar Kedua dari suara.com