Chaos pecah di Timur Tengah AS mengerahkan lebih dari 50.000 pasukan, sekitar 200 jet tempur, dan dua kapal induk dalam serangan besar terhadap Iran.
Dalam operasi militer terbesar dalam satu generasi. Serangan ini telah menghantam hampir 2.000 target dan memicu balasan rudal serta drone dari Tehran. Mengubah eskalasi konflik menjadi krisis global yang menegangkan. Temukan rangkuman informasi menarik dan berita paling terviral lainnya yang bisa kamu jadikan wawasan terbaru yang hanya ada di KEPPO INDONESIA.
AS dan Sekutunya Serbu Iran Dalam Operasi Besar
Operasi militer besar-besaran yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya kini berjalan di wilayah Timur Tengah, dengan fokus menyerang berbagai target militer di Iran. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi pengerahan lebih dari 50.000 personel militer bersenjata lengkap dalam kampanye yang disebut “Operation Epic Fury.”
Jumlah pasukan tersebut didukung oleh sekitar 200 jet tempur serta dua kapal induk kelas Carrier Strike Group. Menjadikan ini sebagai salah satu buildup militer terbesar di kawasan dalam beberapa dekade terakhir.
Menurut pejabat militer AS, pengerahan besar-besaran ini menandai eskalasi serius dalam konflik dengan Iran, yang dimulai. Dengan serangan udara, pemboman fasilitas militer penting, serta koordinasi serangan bersama pasukan Israel.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026! Nonton Semua Pertandingan Tanpa Batas, lewat LIVE STREAMING GRATIS di Aplikasi Shotsgoal. Ayo Download Sekarang!
Sasaran Serangan dan Dampak Pertempuran
Sasaran utama operasi ini meliputi fasilitas rudal balistik, pangkalan angkatan laut, jaringan pertahanan udara, hingga pusat komando militer Iran. Dalam kurang dari 100 jam sejak operasi dimulai, hampir 2.000 target telah diserang dengan lebih dari 2.000 amunisi.
Selain itu, militer AS mengklaim telah menghancurkan 17 kapal Angkatan Laut Iran, termasuk kapal selam yang dianggap sebagai aset operasional kunci. Operasi ini dirancang untuk secara drastis melemahkan kemampuan Iran untuk meluncurkan serangan terhadap pasukan AS dan sekutunya.
Namun, Iran merespons dengan meluncurkan gelombang balasan berupa ratusan rudal balistik dan ribuan drone ke beberapa basis AS, wilayah sekutu, serta target-target lainnya di kawasan. Ini menggambarkan eskalasi konflik yang terus berkembang dan memperluas dampaknya.
Baca Juga: Aksi Polisi di Madina! Gerebek Tambang Ilegal, Sungai Rusak Terlihat!
Gelombang Reaksi dan Korban Jiwa
Konflik ini tidak hanya berdampak langsung di wilayah Iran, tetapi juga memicu ketegangan di negara-negara Teluk serta Timur Tengah. Serangan Iran telah menewaskan sedikitnya enam tentara AS dalam satu insiden drone di Kuwait, sementara pasukan di beberapa pangkalan mengalami serangan balasan.
Reaksi internasional sangat beragam. Beberapa negara NATO menekankan pentingnya hukum internasional dan de-eskalasi, sementara konflik ini membuat harga minyak global meningkat tajam. Karena kekhawatiran terhadap gangguan di rute Selat Hormuz.
Pertempuran juga memicu kekhawatiran terkait kemungkinan penyebaran konflik yang lebih luas di kawasan. Termasuk perluasan serangan ke wilayah Suriah dan Lebanon serta pergeseran dinamika geopolitik di antara sekutu-sekutu lama.
Strategi, Tujuan, dan Tantangan Militer
Pihak militer AS menyatakan tujuan kampanye ini adalah untuk menetralkan ancaman langsung dari Iran terhadap pasukan Amerika, sekutu di kawasan, serta infrastruktur strategis. Admiral Brad Cooper dari CENTCOM menyebut bahwa operasi ini “sekarang berada di depan rencana taktis yang dirancang.”
Kekuatan yang digunakan mencakup kombinasi pasukan darat, unit udara. Serta kapal induk yang memberikan fleksibilitas tinggi dalam serangan jarak jauh, termasuk penggunaan bombardier strategis dari armada udara AS.
Namun, tantangan tetap besar. Iran terus menargetkan sasaran-sasaran strategis AS dan sekutu dengan rudal dan drone. Serta mendapat dukungan dari beberapa kelompok milisi di wilayah yang lebih luas. Meski secara langsung konflik tetap berfokus pada operasi militer antara negara-negara besar.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari news.detik.com
- Gambar Kedua dari garuda.tv