Sumatera menghadapi ancaman banjir dan longsor akibat konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit pakar Geofisika ITS menekankan pentingnya hutan asli.

pegunungan untuk menahan erosi, menyerap air, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan reboisasi dan perlindungan hutan, risiko bencana dapat ditekan, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan dan keamanan masyarakat.
Simak ikutin teru berita terbaru dan terviral yang akan menamba wawasan anda hanya ada di KEPPO INDONESIA.
Ancaman Bencana Akibat Konversi Lahan
Sumatera kembali diguncang bencana alam, termasuk banjir dan longsor di beberapa wilayah pegunungan. Pakar Geofisika dari ITS, Dr. Arief Nugroho, menyoroti penyebab meningkatnya frekuensi bencana ini: konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit yang masif.
Dr. Arief menjelaskan bahwa hutan alam memiliki sistem akar yang kompleks, yang mampu menahan tanah dari longsor dan menyerap air berlebih. Namun, saat lahan diganti dengan kelapa sawit, akar tanaman yang relatif dangkal tidak mampu menahan erosi, sehingga saat hujan deras terjadi, tanah mudah terbawa air dan memicu bencana.
Selain itu, konversi hutan juga mempengaruhi ekosistem lokal, termasuk flora dan fauna yang sebelumnya berfungsi menjaga keseimbangan alam. Hilangnya biodiversitas membuat area pegunungan lebih rentan terhadap degradasi lingkungan dan memicu bencana lebih parah.
Hutan Alam, Kunci Pencegahan Longsor dan Banjir
Dr. Arief menekankan pentingnya pengembalian hutan alam di wilayah pegunungan sebagai upaya mitigasi bencana jangka panjang. Reboisasi dengan jenis tanaman asli yang adaptif terhadap kondisi setempat sangat penting, ujarnya. Dengan cara ini, tanah menjadi lebih stabil dan kemampuan alam dalam menyerap air meningkat.
Ia menambahkan bahwa hutan alam juga berfungsi sebagai penyimpan karbon dan pengatur iklim lokal. Dengan kembalinya hutan, selain mengurangi risiko bencana, kualitas lingkungan hidup masyarakat sekitar juga meningkat. Hal ini penting terutama bagi desa-desa yang bergantung pada pertanian dan sumber daya alam di pegunungan.
Menurut pakar ITS ini, program penghijauan harus didukung dengan partisipasi aktif pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Tanpa dukungan kolaboratif, risiko bencana di kawasan pegunungan Sumatera akan terus meningkat.
Baca Juga: Pemerintah Thailand Salurkan Kompensasi Untuk Korban Banjir
Kelapa Sawit Tingkatkan Risiko Bencana

Meskipun kelapa sawit menjadi komoditas ekonomis, Dr. Arief mengingatkan bahwa penanaman skala besar di daerah pegunungan berisiko tinggi. Akar yang dangkal membuat tanah mudah tergerus, sehingga meningkatkan kemungkinan longsor. Saat hujan deras, kawasan yang sebelumnya ditutupi hutan alami kini menjadi aliran air yang tak terkendali.
Ia juga menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar hutan untuk perkebunan sawit. Kebiasaan ini tidak hanya merusak tanah, tetapi juga meningkatkan polusi udara dan potensi kebakaran hutan.
Pakar geofisika ITS ini menekankan perlunya pendekatan yang lebih bijak dalam pemanfaatan lahan di pegunungan. Alih-alih menanam sawit, masyarakat dan investor disarankan mempertahankan atau mengembalikan hutan alami untuk memastikan keamanan dan keberlanjutan lingkungan.
Strategi Mitigasi Bencana Sumatera
Dr. Arief mengusulkan beberapa langkah strategis untuk mencegah bencana di pegunungan Sumatera. Pertama, reboisasi dengan tanaman asli yang memiliki sistem akar kuat. Kedua, pembatasan pembangunan perkebunan komersial di area rawan longsor. Ketiga, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan sebagai benteng alami.
Selain itu, pemantauan berkala dan teknologi geospasial bisa digunakan untuk mendeteksi area rawan bencana. Dengan data yang akurat, pemerintah dan komunitas lokal dapat mengambil tindakan pencegahan, seperti pembangunan terasering, penguatan lereng, dan sistem drainase yang tepat.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama, tegas Dr. Arief. Kembalikan hutan alam, jangan diganti kelapa sawit. Alam yang sehat adalah kunci untuk mengurangi risiko bencana di Sumatera. Pesan ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak, agar pembangunan dan ekonomi berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan.
Simak dan terus membaca untuk informasi lainya yang akan kami berikan yang terbaru dan terviral hanya ada di KEPPO INDONESIA.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari surabaya.kompas.com
- Gambar Kedua dari www.arahkita.com