Kenaikan harga gas industri kembali jadi perhatian setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia secara terbuka mengakui adanya lonjakan biaya pada sektor non-HGBT.
Meski begitu, ia menegaskan tidak semua industri terdampak karena sektor yang masuk program harga gas bumi tertentu masih mendapat tarif khusus. Situasi ini membuat dinamika energi nasional kembali jadi sorotan, terutama di tengah upaya menjaga daya saing industri dalam negeri. Simak ulasan lengkap dari KEPPO INDONESIA.
Gas Non-HGBT Mulai Terasa Lebih Mahal
Bahlil menjelaskan bahwa kenaikan harga hanya terjadi pada industri yang berada di luar skema HGBT. Kelompok ini membeli gas langsung mengikuti harga pasar sehingga lebih sensitif terhadap perubahan suplai dan distribusi. Kondisi ini membuat sejumlah pelaku industri mulai merasakan tekanan biaya produksi yang meningkat. Pemerintah menilai perbedaan skema harga ini penting, tetapi tetap harus dijaga agar tidak menimbulkan ketimpangan yang terlalu lebar di sektor industri.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Produksi Sumur Gas di Jawa Barat Menurun
Salah satu penyebab utama kenaikan harga datang dari penurunan produksi di beberapa sumur gas, khususnya di wilayah Jawa Barat. Kondisi ini membuat pasokan lokal tidak lagi mencukupi kebutuhan industri di sejumlah kawasan. Pemerintah kemudian harus mencari sumber tambahan untuk menutup kekurangan tersebut. Situasi ini menjadi tantangan tersendiri karena distribusi gas tidak bisa hanya mengandalkan satu wilayah produksi saja.
Baca Juga:Â Purbaya Mulai Tarik Dana Rp 300 T dari Bank BUMN, Langkah Ini Bikin Sektor Keuangan Ikut Waspada
LNG Jadi Solusi, Tapi Biaya Ikut Naik
Untuk menutup kekurangan pasokan, pemerintah dan pelaku industri mulai mengandalkan liquefied natural gas (LNG) dari wilayah lain seperti Papua, Sulawesi, dan Kalimantan. Langkah ini memang membantu menjaga ketersediaan gas, tetapi di sisi lain meningkatkan biaya distribusi.
Proses pengiriman LNG yang lebih kompleks membuat harga akhir yang diterima industri ikut naik. Kondisi ini menjadi salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga gas non-HGBT di lapangan.
Pemerintah Cari Jalan Tengah Harga Gas
Kementerian ESDM saat ini terus mencari formulasi harga yang dianggap lebih seimbang. Dalam sepekan terakhir, pemerintah telah menggelar diskusi dengan asosiasi industri dan perwakilan buruh untuk mendengar langsung dampak kenaikan biaya gas.
Selain itu, pembahasan teknis juga dilakukan bersama PT Pertamina (Persero) guna merumuskan skema harga yang lebih ideal. Pemerintah berupaya menjaga agar industri tetap berjalan tanpa terbebani biaya energi yang terlalu tinggi, namun tetap mempertahankan keberlanjutan pasokan nasional.
Stok Gas Aman, Tapi Regulasi Tetap Dijalankan
Meski harga mengalami penyesuaian di beberapa sektor, Bahlil memastikan bahwa stok gas nasional masih berada dalam kondisi aman. Kenaikan yang terjadi tidak bersifat menyeluruh, melainkan hanya pada industri yang menggunakan mekanisme harga komersial.
Sementara itu, pemerintah tetap menjalankan kebijakan HGBT untuk tujuh sektor industri strategis seperti pupuk, petrokimia, baja, hingga keramik. Kebijakan ini diharapkan bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan stabilitas energi nasional di tengah perubahan kondisi produksi gas.