Komplotan joki UTBK di Surabaya terungkap dengan tarif fantastis mencapai ratusan juta rupiah untuk melancarkan aksi kecurangan ujian.
Polrestabes Surabaya membongkar sindikat joki UTBK yang beroperasi 9 tahun dan menangkap 14 tersangka dari berbagai profesi, termasuk dokter dan ASN. Tarifnya mencapai Rp500–700 juta per order dengan 114 klien mayoritas mengincar Fakultas Kedokteran. Kasus ini terungkap saat ujian di Unesa pada 21 April 2026 dan mengejutkan publik.
Temukan rangkuman informasi paling menarik dan sedang viral di bawah ini yang siap menambah wawasan Anda, hanya di KEPPO INDONESIA.
Pengungkapan Kasus
Kasus terungkap saat pengawas UTBK di Gedung Rektorat Unesa curiga pada peserta berinisial HRE. Foto dokumennya identik dengan peserta tahun sebelumnya, dan ia tak paham bahasa Madura saat diajukur. Pengawas melaporkan ke polisi, memicu penggerebekan sindikat yang sudah meresahkan selama 9 tahun.
Polrestabes Surabaya gerak cepat, mengamankan 14 tersangka dalam waktu singkat. Kapolrestabes Kombes Luthfie Sulistiawan mengonfirmasi tidak ada keterlibatan kampus dalam perjokian ini. Penyidik langsung menggali jaringan, menemukan data 114 klien yang identitasnya sudah terdata. Polisi juga masih menelusuri kemungkinan adanya jaringan di luar wilayah Jawa Timur.
Penyelidikan berlanjut dengan koordinasi Kementerian Pendidikan. Polisi memastikan kasus ditangani tuntas untuk cegah praktik serupa di masa depan. Hingga kini, fokus pada pendalaman peran masing-masing tersangka dan pemberi order. Aparat juga membuka peluang pengembangan kasus ke sektor ujian lain di tingkat nasional.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Profil Tersangka
Tersangka utama berinisial IKP atau K (41), pengusaha laundry yang jadi otak jaringan. Ia menerima order dari berbagai daerah dan mengatur pembagian tugas. Jaringannya lintas profesi, menunjukkan kerumitan operasi selama 9 tahun. Perannya disebut sangat dominan dalam menentukan alur komunikasi dan distribusi tugas.
Daftar tersangka mencakup NRP (21) dan PIF (21) mahasiswa sebagai joki utama. Dokter seperti BPH (29), DP (46), MI (31) terlibat pembuatan dokumen palsu dan logistik. ASN P3K ITR (38) dan CDR (35) ikut berperan dalam distribusi. Beberapa di antaranya diduga sudah lama terlibat dalam jaringan tanpa terdeteksi.
Lainnya termasuk RZ (46) pedagang, HRE (18) pelajar, BH (55) wiraswasta, serta karyawan swasta FP (35), SP (43), SA (40). Salah satu joki mahasiswa cumlaude nekat karena ekonomi keluarga. Profesi mentereng ini ironis mengkhianati integritas pendidikan. Polisi masih mendalami motif masing-masing pelaku untuk memperkuat berkas perkara.
Baca Juga: Berbeda Dengan Indonesia, 2 Eks Menhan China Divonis Mati Akibat Korupsi!
Skema Tarif Gila
Tarif total per order Rp500-700 juta ditentukan K berdasarkan kampus tujuan klien. Uang dibagi ke seluruh jaringan, dari koordinator hingga joki lapangan. Mayoritas klien pilih Kedokteran karena tes dianggap paling sulit. Sistem ini dibuat berlapis untuk menyamarkan aliran dana agar sulit dilacak.
Joki rata-rata dapat Rp20-30 juta per sesi, tapi melonjak ke Rp75 juta untuk kampus top. Pembagian adil sesuai peran, pastikan loyalitas anggota. Sistem ini memungkinkan operasi mulus selama bertahun-tahun. Beberapa anggota bahkan dijanjikan bonus jika berhasil meloloskan klien tertentu.
Klien bayar di muka via transfer, dengan jaminan lolos SNBT. Tinggi tarif sebanding risiko dan keuntungan masuk jurusan favorit. Polisi sebut ini tender profesional, bukan abal-abal. Dalam beberapa kasus, transaksi diduga dilakukan melalui perantara untuk menghindari jejak digital langsung.
Dampak dan Respons
Sindikat layani 114 klien, berpotensi rusak sistem masuk PTN nasional. Integritas UTBK terancam, khususnya jurusan kompetitif seperti Kedokteran. Masyarakat prihatin, desak pengawasan lebih ketat. Kasus ini juga memicu perdebatan luas di media sosial mengenai keadilan seleksi pendidikan.
Polisi koordinasi dengan Dikti untuk telusuri klien dan buru pelaku lain. Tersangka ditahan, dijerat Pasal pemalsuan dokumen dan curang ujian. Hukuman berat diharap jadi efek jera. Penelusuran juga menyasar kemungkinan keterlibatan pihak lain yang belum terungkap.
Pihak pendidikan janji perbaiki protokol pengawasan. Kasus ini ingatkan pentingnya kesadaran etika di kalangan calon mahasiswa. Harapannya, UTBK 2027 lebih aman dari praktik kotor. Evaluasi sistem digital dan pengawasan berbasis teknologi juga mulai dipertimbangkan untuk mencegah kejadian serupa.
Temukan rangkuman informasi paling menarik dan sedang viral di bawah ini yang siap menambah wawasan Anda, hanya di KEPPO INDONESIA!
Sumber Informasi Gambar:
Gambar Pertama dari news.detik.com
Gambar Kedua dari idntimes.com