Bencana banjir kembali melanda Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menyebabkan sebagian besar tanaman padi warga masih terendam parah.
Hujan deras sejak Kamis (1/1) hingga Jumat tak hanya merendam pemukiman, tetapi juga lahan pertanian di Desa Madusari dan Desa Jetis. Kondisi ini membuat para petani dilanda kekhawatiran mendalam, terutama karena ancaman gagal panen yang sudah berulang kali terjadi. Kerugian besar membayangi, sementara bantuan yang diharapkan tak kunjung tiba.
Temukan informasi menarik dan berita paling terviral lainnya di bawah ini yang dapat memperluas wawasan Anda hanya di KEPPO INDONESIA.
Derita Petani Akibat Banjir Tak Kunjung Surut
Petani seperti Pariyatin, pemilik 1,5 hektar sawah di Desa Madusari, hanya bisa pasrah melihat tanaman padinya terendam. Banjir yang sudah berlangsung dua hari ini mengancam membusukkan seluruh tanaman jika tidak segera surut. Ini bukan kali pertama Pariyatin menghadapi musibah serupa, menambah daftar panjang kegagalan panen yang merugikan.
Pariyatin mengungkapkan bahwa sebelumnya ia juga mengalami gagal panen akibat serangan hama wereng. Bahkan, musim tanam sebelumnya juga terdampak banjir, memaksanya menyulam tanaman padi yang mati hingga empat kali. Kini, ancaman gagal panen kembali membayangi, menciptakan keputusasaan di tengah perjuangan untuk bertahan hidup.
Banjir ini diduga berasal dari luapan Sungai Genting yang mengalami pendangkalan parah. Kondisi sungai yang tidak pernah dinormalisasi selama enam tahun terakhir menjadi pemicu utama. Akibatnya, setiap kali hujan deras, air dengan mudah meluap dan merendam lahan pertanian warga, menghancurkan harapan mereka.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
Akar Masalah, Sungai Genting Yang Terabaikan
Penyebab utama seringnya lahan pertanian terendam banjir adalah kondisi Sungai Genting yang memprihatinkan. Selama enam tahun terakhir, tidak ada upaya normalisasi atau pengerukan sungai. Akibatnya, terjadi pendangkalan signifikan yang mengurangi kapasitas sungai menampung air hujan.
Selain pendangkalan, bantaran Sungai Genting juga dimanfaatkan warga untuk menanam jagung. Hal ini semakin memperparah kondisi, menyebabkan aliran sungai menyempit. Kombinasi pendangkalan dan penyempitan membuat Sungai Genting tidak mampu menahan debit air saat hujan deras, sehingga luapan tak terhindarkan.
Pariyatin mengenang bahwa dahulu, banjir paling lama surut dalam dua hari karena pemerintah rutin mengeruk sungai hingga jembatan Desa Pengkol. Kontras dengan kondisi sekarang, di mana minimnya perhatian terhadap infrastruktur sungai telah menciptakan masalah berulang bagi masyarakat dan petani setempat.
Baca Juga: Ancaman Kekacauan Pidana Mengintai 2026, Apa Langkah Penegak Hukum?
Ketiadaan Bantuan Dan Resiliensi Petani
Meskipun sering menghadapi gagal panen dan kerugian besar, Pariyatin mengaku tak pernah sekalipun menerima bantuan dari pemerintah, bahkan sekadar benih padi. Kondisi ini memperparah beban petani yang harus berjuang sendiri menghadapi dampak bencana. Ketiadaan uluran tangan membuat mereka merasa terabaikan.
Meski demikian, para petani di Ponorogo menunjukkan semangat pantang menyerah. Mereka tetap menanam padi, tidak peduli seberapa sering gagal panen. Resiliensi ini menunjukkan betapa kuatnya keterikatan mereka pada lahan dan profesi sebagai petani, meskipun harus berhadapan dengan ketidakpastian.
Kepala Desa Ngampel, Siswanto, juga mengonfirmasi dampak banjir yang merendam puluhan hektare sawah warganya. Tanaman padi yang baru berusia sekitar dua bulan terancam tidak dapat tumbuh maksimal. Minimal 10 hektare sawah terdampak parah, menambah daftar kerugian para petani di Ponorogo.
Seruan Untuk Perhatian Dan Solusi Jangka Panjang
Kasus banjir yang terus berulang di Ponorogo ini menjadi cerminan perlunya perhatian serius dari pihak berwenang. Normalisasi Sungai Genting adalah langkah mendesak yang harus segera dilakukan untuk mencegah kerugian lebih lanjut. Tanpa penanganan akar masalah, petani akan terus terjebak dalam lingkaran gagal panen.
Selain normalisasi sungai, pemerintah juga diharapkan dapat memberikan bantuan konkret kepada petani terdampak. Bantuan benih, pupuk, atau bahkan skema asuransi pertanian dapat meringankan beban mereka dan membantu mereka bangkit kembali. Perhatian terhadap kesejahteraan petani adalah investasi untuk ketahanan pangan.
Pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga bantaran sungai juga perlu ditingkatkan. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan produktif bagi sektor pertanian. Stop membiarkan petani berjuang sendirian.
Pantau selalu beragam berita terkini yang akurat, terpercaya, dan mendalam, eksklusif hanya di KEPPO INDONESIA agar Anda tidak ketinggalan setiap perkembangan penting lainnya.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Utama dari surabaya.kompas.com
- Gambar Kedua dari surabaya.kompas.com